3 Iron


Speechless.

Film lepas yang satu ini berhasil menjerat saya dalam kebingungan untuk memilih kata-kata yang tepat dalam mendeskripsikannya. Sensasional. Saat ini hanya satu kata itu yang berdesir di telinga saya.

Sepanjang puluhan menit film ini berlangsung, mungkin dapat dihitung dengan sepuluh jari dialog-dialog yang ada di antara pemain. Bahkan dua pemain utama pun dari awal sampai akhir film berlangsung, tidak pernah benar-benar terlibat dalam satu scene yang ‘bersuara’. Benar-benar minim dialog, namun di situlah letak kekuatan film ini.

Scene-scene yang dirangkai sudah cukup lengkap menceritakan apa yang ingin disampaikan di dalamnya.

3 iron bercerita tentang seorang pemuda homeless yang menikmati hidupnya dengan berpindah-pindah dari satu rumah kosong ke rumah kosong lain. Si pemuda yang anonim ini sebenarnya punya kesempatan besar untuk mengutil barang-barang di setiap rumah yang disinggahinya namun dia hanya menumpang istirahat, tidur, makan dan melakukan ritual-ritual kecil yang menjadi kebiasaanya. Si pemuda bahkan bertindak selayaknya seorang house keeper di tiap rumah tersebut. Dari mulai membersihkan rumah, mencuci pakaian kotor sampai memperbaiki alat-alat elektronik dan mekanik yang malfungsi dilakoninya dengan senang hati.

Sampai suatu hari dia memasuki rumah yang ternyata masih berpenghuni. Si pemuda anonim tidak menyadari kalau tindak tanduknya sejak memasuki rumah itu telah diamati oleh seorang wanita dengan pipi dan bibir yang lebam (seingat saya wanita ini juga tampil anonim). Pertemuan merekapun berlanjut sampai akhirnya si wanita dan pemuda anonim ini sama-sama menjalani hidup selaiknya si pemuda biasa jalani.


Dianiaya suami..



Tanpa suara..

Petualangan mereka terhenti ketika pada suatu rumah mereka mendapati seorang kakek tua yang telah meninggal dunia. Bukannya melarikan diri dari rumah itu (karena takut tersangkut masalah) mereka berdua malah mengurus mayat sang kakek dan menguburkannya dengan layak. Si pemuda bahkan bermaksud menelepon keluarga sang kakek namun ketika nomor disambungkan, hanya mesin penjawab telepon yang terdengar menjawab.

Masalah timbul ketika keluarga kakek tersebut datang dan mendapati kakek mereka tidak ada di rumah. Serta merta mereka menelepon polisi dan sepasang pengelana tadi langsung diangkut ke kantor polisi sebagai tersangka pembunuhan dan pencurian. Si wanita anonim kemudin dibebaskan dengan jaminan suaminya sementara si pemuda tetap mendekam dalam penjara.

Beberapa menit berlalu, kejanggalan-kejanggalan yang memaksa saya tetap serius memperhatikan detail film ini mulai bermunculan. Dari mulai tingkah si pemuda anonim yang ‘aneh’ sampai akhirnya dia berhasil keluar dari penjara dan menapaktilasi rumah-rumah yang pernah disinggahinya secara ‘kasat mata’. Meskipun kisah cintanya dengan si wanita anonim berakhir bahagia, namun, seperti text terakhir yang muncul di layar pada ujung film ini, saya pun masih mempertanyakannya (dan hal ini benear-benar menguras keingintahuan saya).
“It’s hard to tell that the world we live in is either a reality or a dream”

Sutradara: Kim Ki Duk
Pemain: Lee Seung Yeon, Jae Hee, Kwon Hyeok Ho
Release: 15 Oktober 2004
Credit: hancinema.net

5 thoughts on “3 Iron

  1. Wah aku setuju banget kalo bilang ini film paling bikin penasaran.. karena the endnya Jae Hee(si pemuda hehehe) bener2 bisa menguasai ilmu meringankan tubuh gitu???

  2. hahaha… perhatiin yang bener deh…
    film ini bener2 mengandung nilai kehidupan yang dalem banget, lagian “sistem tanda” (isyarat) dalam tiap adegannya berhubungan… kalo mau ilang rasa penasarannya, tonton 3x ni film, n bahas ama temen2 kalian.. hehehe.. top deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s