Erai Tokoro ni Totsuide Shimatta! (I've Been Married to Hell!)




Erai tokoro ni totsunaide shimatta yang dalam bahasa Inggrisnya diterjemahkan menjadi I’ve been married to hell, bercerita tentang Makimura Kimiko, seorang jurnalis lepas yang menikah dengan Yamamoto Isoujiro, seorang pria tulus dan baik hati yang dikenalnya dalam waktu singkat. Kimiko yang merupakan sosok wanita pekerja dengan mobilitas tinggi belum mengenal keluarga Isoujiro secara dekat sebelum mereka menikah, sampai ketika akan diadakan resepsi adat pernikahan mereka yang diselenggarakan di kampung halaman Isoujiro. Ternyata ‘keluarga biasa’ yang digambarkan Isoujiro padanya selama ini tidak seperti ‘keluarga biasa’ dalam defenisi Kimiko.Isoujiro adalah anak ketiga dari empat bersaudara Yamamoto, salah satu keluarga terpandang dan dihormati di kampung mereka. Seluruh keluarga Isoujiro, dari kakek buyut sampai adik bungsunya terjun ke dunia kedokteran. Bahkan ipar-iparnya Isoujiropun adalah dokter-dokter spesialis yang kawakan di bidangnya. Hanya Isoujirolah satu-satunya yang tidak menekuni profesi dokter dikarenakan kemampuannya yang memang paling kurang di antara mereka. Isoujiro dikenal sebagai anak yang lamban, penurut, polos dan ga neko-neko. Gambaran ‘keluarga biasa’ yang dikatakan Isoujiro pada Kimiko ternyata adalah sebuah keluarga yang ‘biasa’ dengan adat istiadat, tradisi dan aturan-aturan tertulis maupun tidak tertulis yang wajib dilaksanakan oleh seluruh anggota keluarga.

Isoujiro yang sehari-harinya ceroboh, sembarangan, acak-acakan berubah 180 derajat menjadi Isoujiro yang memperhatikan sampai ke hal-hal detail ketika berada di rumahnya di kampung ini. Dari mulai meletakkan sepatu yang berjajar rapi di depan rumah, berjalan dengan tidak memijak garis ubin, memberi hormat dan salam dengan sangat sempurna, sampai melipat dan meletakkan mantel pada tempatnya dilakoni oleh Isoujiro. Terang saja hal ini membuat Kimiko ternganga. Seolah-olah dia menikahi dua orang yang berbeda, Isoujiro yang dinikahinya di Tokyo tidak sama dengan Isoujiro yang ada di kampung.Tidak cukup di situ kejutan yang ditemui Kimiko di kampung Isoujiro. Kedatangan mereka untuk melaksanakan resepsi adat ternyata benar-benar akan melalui tahap demi tahap tradisi pengantin baru yang menyiksa fisik dan bathin Kimiko. Mulai dari memberi salam kepada seluruh tetangga yang ada di kampung, menyiapkan jamuan makan dengan embel-embel pertunjukan tari serta ikebana sampai dipersandingkan di depan tetua-tetua dengan menggunakan kimono lengkap. Berlipat gandalah kekesalan Kimiko pada suaminya. Karena tidak hanya lupa memberitahu dirinya akan detail acara yang bakal mereka laksanakan di kampung, Isoujiro pun ternyata mengarang cerita pada keluarganya bahwa Kimiko merupakan istri yang pandai memasak, pandai mengurus rumah dan menguasai keterampilan-keterampilan wanita tradisional Jepang pada umumnya.



Berbagai kekacauanpun terjadi. Kimiko yang nyaris melarikan diri ke Tokyo, harus membatalkan niatnya karena Isoujiro telah mengundang kedua orangtuanya juga ke acara itu. Semakin meledaklah amarah Kimiko. Namun karena sudah terlanjur basah, Kimiko pun menyelesaikan satu demi satu tantangan ini meskipun terdapat kekurangan di sana sini. Sepasang pengantin baru ini pun berhasil melewati resepsi adat yang dimaksudkan dan kembali ke Tokyo.

Tadinya Kimiko bersumpah itulah kali pertama dan terakhir baginya menginjakkan kaki di kampung Isoujiro. Tapi ternyata ada-ada saja kejadian yang membuatnya harus kembali lagi dan lagi ke kampung tersebut. Kimiko menghadapi berbagai masalah dan cobaan selama menjadi menantu keluarga Yamamoto. Terlebih dengan mertuanya yang memang teramat sangat peduli padanya dan kehidupan rumah tangganya. Hal ini membuat Kimiko jengah. Hidupnya sejak menikahi Isoujiro tidak lagi senyaman dulu. Pekerjaannya sebagai penulis pun sempat terganggu dan menemui banyak hambatan. Namun seiring berjalannya waktu dan berbagai kejadian yang menimpa mereka, Kimiko mulai mengerti dan mempelajari suatu nilai yang paling berharga untuknya yaitu makna sebuah keluarga dalam hidupnya. Kimiko yang tadinya tidak peduli akan keluarga Yamamoto, tidak ingin kenal lebih jauh apalagi menghabiskan hari lebih lama dengan mereka malah ikut berjuang dengan keluarga ini, ikut mempertahankan nama baik keluarga ini bahkan ikut serta dalam beberapa acara adat dan tradisi mereka. Perlahan-lahan Kimiko mulai dapat menerima dan memahami keluarga Yamamoto. Sebaliknya keluarga Yamamoto yang tadinya mengira Kimiko menikahi Isoujiro karena menginginkan kekayaan keluarga mereka semata-mata, pun merubah penilaian mereka dan selalu dengan tangan terbuka menerima kehadiran wanita kota yang mengagumkan ini.

Secara ini adalah dorama yang terdiri atas 9 episode, erai tokoro ni totsunaide shimatta sudah cukup padat dan tidak bertele-tele dalam mengemas ide pernikahan, tradisi, dan keluarga yang ingin disampaikan di dalamnya. Banyak sekali pesan-pesan moral yang bisa dipetik dalam dorama ini. Misalnya bagaimana Isoujiro, si anak lamban tanpa kebanggaan apapun dalam hidupnya yang mau merubah dirinya menjadi manusia lebih baik sejak menikahi Kimiko, sosok wanita spesial yang sangat mengagumkan baginya . Isoujiro yang tak bisa apa-apa, lamban dan tak bisa diandalkan, dengan motto ‘serahkan padaku’ nya mau berusaha maksimal atas setiap masalah yang mereka temui meskipun hasil akhirnya tidak memuaskan. Bagaimana Kimiko mempertimbangkan posisi dan nama baik suaminya dalam keluarga dengan tetap melaksanakan tradisi-tradisi ‘aneh’ itu meskipun hati nurani dan mulutnya meronta-ronta pun bisa dijadikan pelajaran. Bahwa bagaimanapun seorang istri harus mendukung suaminya dan bisa menanggalkan sedikit keegoisannya meskipun hal yang diminta itu sangatlah berat dan meletihkan.

Hubungan mertua dan menantu dalam dorama ini juga bisa dijadikan pelajaran. Bagaimana Kimiko mencoba memenuhi keinginan ibu mertuanya dan bagaimana sang ibu mertua memperlihatkan kasih sayangnya ke sang menantu yang terkadang memang agak mengganggu dan merepotkan. Kimiko pun tanpa ada unsur kepura-puraan mencoba menjalin hubungan baik dengan ipar-iparnya serta keluarga Isoujiro yang lain. Korelasinya dengan kehidupan nyata kita adalah bahwa pernikahan itu bukan hanya menyangkut dua orang namun dua keluarga memang nampak buktinya di sini.



Untuk penokohan masing-masing peran di dorama ini saya rasa juga sudah tepat. Mungkin karena saya juga belum banyak mengenal nama-nama aktris yang cukup pantas memerankan Kimiko di sini. Setelah melihat Nakama Yuki di Gokusen 1 dan Gokusen 2, sepertinya Nakama Yuki is okay to play this role. Agak stereotype juga sih cara bicara dan cara dia mengekspresikan sosok seorang Kimiko, apalagi ingatan saya akan Yankumi belum benar-benar terhapus. Tipe-tipe pakaian yang digunakan Kimiko juga tak jauh beda dari Yankumi di Gokusen 1 dan Gokusen 2. Jauh dari kesan feminine, jeans atau celana panjang dengan padanan kaos atau blouse sepertinya sudah jadi trademark Yuki (padahal sepertinya tokoh Kimiko di sini tidaklah setomboy tokoh Yankumi di Gokusen).

Tanihara Shosuke yang berperan sebagai Yamamoto Isoujiro tampil cemerlang di sini. Dengan wajah yang memang kurang tampan, berbagai ekspresi yang dibawakannya sebagai satu kesatuan utuh Isoujiro memang total terbaca kesan bloon dan lambannya. Padahal di Gokusen 2, Tanihara yang juga tampil sebagai guru kecengan Yankumi cukup berwibawa lho..

Tokoh lain yang cocok banget karakter yang dibawakannya adalah Matsuzaka Keiko yang berperan sebagai Yamamoto Shimako, sang ibu mertua yang positif binti annoying bagi Kimiko. Saya sempat trenyuh juga melihat acting menangisnya atau acting terharunya ketika memikirkan Kimiko yang sendirinya Kimiko kurang mempertimbangkan perasaan sang ibu mertua ini. Sebagai sosok wanita Jepang tulen, Matsuzaka memang sangat sempurna. Dalam dorama ini juga muncul Hamada Mari yang berperan sebagai Moriyama Yumi, sang kakak ipar jutek yang sangat sering merepotkan Kimiko.

Well, meskipun ide cerita dan kemasan dorama ini sebenarnya cukup menarik, namun kurangnya pancingan yang membuat rasa penasaran penonton terkatung-katung untuk terus dan terus melanjutkan menonton dorama ini menjadi salah satu kekurangannya. Tidak adanya keterikatan emosi yang dalam antara episode yang membungkus dorama ini juga seolah-olah memberikan kesan bahwa antara satu dan episode yang lain adalah bagian cerita yang terpisah. Saya sendiri tidak perlu kejar tayang dalam menyelesaikan satu paket lengkap erai tokoro ni totsunaide shimatta, dengan tidak terlupa jalan cerita sebelumnya meskipun telah jeda menonton episode terdahulu selama beberapa hari. Tidak dibutuhkan konsentrasi khusus pula dalam menyaksikan rangkaian scene-scene yang ada. Mungkin, di negeri asalnya segmen penonton yang ingin dituju memang kalangan ibu-ibu rumah tangga yang dapat melakukan aktivitas ringan lain sambil tetap menyaksikan dorama ini.

Sutradara: Katayama Osamu
Pemain: Nakama Yuki (Yamamoto Kimiko), Tanihara Shosuke (Yamamoto Isoujiro), Matsuzaka Keiko (Yamamoto Shimako, ibu mertua), Honda Hirotaro (Yamamoto Namio, ayah mertua), Hamada Mari (Moriyama Yumi, kakak Isoujiro), Hashimoto Satoshi (Yamamoto Eitaro, abang Isoujiro), Mano Yuuko (Yamamoto Rie, si bungsu Yamamoto)
Episode: 1-9
Release: Maret 2007

5 thoughts on “Erai Tokoro ni Totsuide Shimatta! (I've Been Married to Hell!)

  1. menurut ichal,permasalahan yang ada dlm film itu appah sih?
    soalnyah aku bikin skripsi pake drama ini.
    blz cpt iaah..
    thankz..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s