Bambino


Bambino, Bene!



Setelah sukses berperan sebagai Doumiyoji Tsukasa dalam Hana Yori Dango return di tahun 2007 ini, Matsumoto Jun kembali dalam bentuk Bambino yang tak kalah mengesankan. Meskipun awalnya ada sedikit keraguan dalam diri saya mengenai kepiawaian doi dalam menguasai sang Bambi (mengingat adanya rumor-rumor yang beredar soal karakter Doumiyoji yang terbawa dalam kehidupan sehari-harinya Matsujun), namun setelah menguliti sebelas episode yang disuguhkan, keraguan tadipun sirna. Matsujun sang Bambi benar-benar berbeda dengan Matsujun sang ‘young master’ Doumiyoji. Saya tak lagi mendapati Matsujun yang pemarah, egois, angkuh, keras kepala, pendendam atau mau menang sendiri, dan menemukan Matsujun sebagai seorang pemuda desa yang ambisius, tekun, pantang menyerah, dengan bakat dan toleransi tinggi terhadap orang-orang di sekitarnya. Saya terpana.. Matsujun benar-benar ‘mantap kali’!Dorama ini bercerita tentang Ban Shogo, seorang pemuda desa yang sehari-harinya bekerja paruh waktu di sebuah restauran kecil. Karena bakat memasaknya yang cemerlang, pada saat libur kuliahnya, Ban-chan diutus sang guru untuk berlatih kemampuan memasaknya di sebuah restauran Italia di Tokyo. Sebuah restauran mewah dengan tamu-tamu kelas atas yang bernama “Baccanale”.


Baccanale



Ban Shogo, koki muda dari Fukuoka

Sejatinya Ban-chan yang punya percaya diri tinggi terhadap masakannya, menjadi sedikit pamer dan besar kepala ketika pertama kali tiba di Baccanale. Sifatnya ini membuat berang beberapa orang yang nyata-nyata memulai karir sebagai koki dari nol besar. Ban-chan pun mendapat tantangan-tantangan dari teman-teman kerjanya itu yang sering menganggapnya si ‘sampah’ merepotkan yang tidak berguna. Terlebih ketika Ban-chan diposisikan sebagai asisten pembuat pasta, Katori, yang secara terang-terangan memperlihatkan kebenciannya pada Ban-chan. Ban-chan pun pernah dipukuli, dikerjai habis-habisan, dan meskipun beberapa rekannya yang lain tidak menyukai hal ini, mereka malah menjadikan Ban-chan sebagai ajang taruhan yang menghibur. Apakah Ban-chan dapat bertahan sampai liburan selesai atau kabur pada hari kesekian masa latihannya di Baccanale? Ban-chan yang mengetahui ini tidak patah semangat malah semakin termotivasi untuk tetap belajar dan berlatih di Baccanale.

Ketika liburan berakhir dan Ban-chan yang mendapat gelar “Bambino” di Baccanale (Bambino dalam bahasa Italianya berarti anak-anak, red) harus kembali ke Fukuoka, hati Ban-chan terasa berat. Begitu banyak hal yang belum dipelajarinya dari koki-koki hebat di Baccanale. Begitu banyak hal yang ingin diketahuinya namun Ban tetap harus kembali ke kotanya untuk melanjutkan kuliah dan pekerjaan paruh waktunya. Ban sempat memohon kepada master koki untuk dapat terus bekerja di situ, tetapi sang master koki menolaknya mentah-mentah. Ban pun kembali dengan hati yang terbagi dua.Sekembalinya ke Fukuoka, Ban disambut dengan hangat oleh Eri, sang pacar tercinta. Ban yang masih teringat-ingat terus akan Baccanale akhirnya memutuskan untuk kembali ke sana dengan meninggalkan semua kehidupannya di Fukuoka, termasuk Eri. Hubungannya dengan Eripun berakhir. Meskipun hal ini semakin memperberat beban hatinya tapi tekad Ban-chan yang sudah bulat mengantarkannya kembali ke Baccanale.

Di Baccanale ternyata tidak semudah yang dibayangkannya. Ban-chan harus melewati tahap demi tahap pendidikan untuk menjadi seorang koki Baccanale. Mulai dari menjadi pelayan selama setahun, menjadi asisten Oda-san si pembuat Dolce (manisan) yang aneh, menjadi asisten pembuat pasta sampai akhirnya penantian Ban untuk kembali ke dapur sebagai kokipun tercapai. Dalam tahap demi tahap yang dilewati Ban ini, berbagai tantangan dan masalah ditemuinya. Namun dengan kekuatan tekad, ketekunan serta analisanya yang tajam, Ban berhasil menjalaninya dengan baik.


Membuat pasta



Kaldu Broto yang merontokkan percaya diri Bambi..



Setelah dipukuli Katori

Meskipun ending dorama ini berkesan gantung untuk beberapa orang yang telah menontonnya, namun menurut saya endingnya sudah pas dan tidak membutuhkan “Bambino II” sebagai sequel untuk meneruskan “Bambino” ini. Keberangkatan Ban ke Itali untuk bekerja di restauran di sana lagi-lagi memperkokoh karakter Ban yang ambisius, selalu ingin maju dan tak kenal kata menyerah.Untuk ide cerita dan storyline, selaiknya dorama-dorama lain yang diadaptasi dari komik, Bambino pun tidak mengecewakan. Meskipun sederhana, minim intrik bahkan minim ide-ide romantis, Bambino seperti membawa misi tersendiri bagi para pemuda sekarang. Bahwa yang terpenting untuk masa depan kita adalah tahu siapa diri kita dan tahu kemampuan serta bakat kita. Seperti Ban-chan, si bambino yang meninggalkan gelar sarjana ekonominya untuk menjadi seorang koki handal yang teramat dicita-citakannya.Secara pemilihan tokoh-tokoh dalam Bambino ini (selain Matsujun tentunya) saya kurang setuju dengan Fukiishi Kazue yang berperan sebagai Takahashi Eri, pacar sang Bambi. Entah ini penilaian subjektif saya saja atau memang fakta, saya melihat Fukiishi sepertinya lebih cocok jadi tantenya Ban Shogo ketimbang pacarnya. Secara Eri yang pembawaannya dewasa banget di situ, meskipun didandani dengan gaun yang cukup kawaii (adegan putus sebelum Ban kembali ke Tokyo), tapi kesan tante-tantenya tetap tidak hilang atau berkurang. Untuk actingnya sendiri juga kurang ‘greget’ dan bagi saya tidak terasa emosi Eri ketika akan ditinggal sang pacar yang jelas-jelas sudah pernah melamarnya dan membuat perjanjian untuk menikah.


Bambi dan tante Eri

Sementara itu untuk tokoh-tokoh yang lain saya sudah cukup puas hati, termasuk Uchida Yuki yang berperan sebagai Shisido Miyuki (manager, putri Tekkan sang master koki) juga sudah pantas, kecuali soal rambut palsunya Yuki yang kaku itu agak membuat mata saya tidak nyaman melihatnya.Di antara pemeran-pemeran tambahan lain yang ada dalam Bambino, ada tiga karakter unik yang menarik perhatian saya yaitu Katori Nozomi yang diperankan Sato Ryuta, Oda Toshio (si pembuat Dolce) yang diperankan Hoshan, dan Seno Masashi yang diperankan oleh Mukai Osamu. Tiga karakter ini, terutama Oda Toshio menjadi bumbu yang semakin menyedapkan suguhan Bambino.

Katori Nazomi. Pembuat pasta yang satu ini paling sering berseberangan dengan Bambino dan paling sering ‘menganiaya’ Ban-chan baik dalam bentuk perbuatan ataupun kata-kata yang tajam menusuk. Terkenal dengan sifatnya yang pemarah, serius, cuek, namun juga berambisi tinggi untuk jadi koki hebat, Katori yang diberi gelar “preman berbandana” oleh Ban-chan merupakan tokoh yang paling macho di sini. Terlebih ketika Katori muncul dengan motor besarnya. Kakkoii!

Oda Toshio. Si pembuat Dolce ini asli aneh orangnya. Selain kaku, tidak bergaul dengan rekan-rekan kerjanya yang lain, Oda juga jarang banget bicara. Bahkan untuk transaksi dengan penjual bahan-bahan masakanpun Oda hanya menggunakan mata dan anggukan kepalanya. Meskipun tokohnya paling introvert di antara yang lain tapi Oda inilah yang paling perhatian pada Ban. Sejak awal Ban masuk Baccanale sampai dalam masalah ‘kebosanan bekerja’ yang dihadapi Ban, Oda yang menjadi tempat curhatnya Ban dan bahkan Oda mengajak Ban-chan ke tempat karokean serta membawakan sebuah lagu ‘perjuangan’ yang memompa kembali semangat Ban. Kocak sekali interaksi antara Ban dan Oda-san ini. Yang paling natural tampak pada adegan Ban yang berhasil membuat kocokan putih telur sesuai keinginan Oda-san (episode 7, red).

Seno Masashi. Si pembuat makanan rumput laut, mantan teman sekamar, serta tetangga Ban-chan. Masashi ini lebih muda usianya dari Ban sehingga pada awal-awal perkenalan Ban yang ‘sok tua’ memanggilnya dengan Masashi-kun. Secara Masashi yang merasa lebih senior dari Ban dalam hal status bekerja di Baccanale, Masashi meminta Ban memanggilnya dengan Masashi-senpai, tapi sampai akhir dorama ini hasrat si cowok imut yang sensitif ini tidak kunjung kesampaian.

Satu lagi yang menjadi kekurangan di dorama ini, menurut saya, kurangnya motion soundtrack yang mendukung untuk lebih menggugah emosi penonton. Terselipnya “We can Make it – Arashi” sebagai lagu pembuka dan penutup di dorama ini bisa saya maklumi, mengingat di dorama-dorama Matsujun lain juga menggunakan lagu-lagunya Arashi, namun kenapa untuk sountrack di adegan-adegan lain juga menggunakan lagu yang sama? Padahal suasana yang ingin dibawakan rasanya tidak seriang lagu itu. Untuk urusan yang satu ini sepertinya dorama Jepang harus belajar dari drama-drama Korea yang lebih variatif dan jeli dalam menyelipkan musik atau soundtrack lagu yang keren yang akan semakin menyita perhatian penontonnya (contoh soundtrack yang keren menurut saya ada di Ijuksa, Goong, My Girl).

Last but not least, dengan average rating Bambino 14,2% saya juga merekomendasikan dorama ini untuk dinikmati di saat-saat santai anda.

Sutradara: Oya Taro, Murose Ken, Asai Sentan
Penulis: Sekiya Tatsuji
Release: April-Juni 2007

Pemain:
Matsumoto Jun: Ban Shogo
Sato Ryuta: Katori Nozomi
Karina: Hibino Asuka
Uchida Yuki: Shishido Miyuki
Sasaki Kuranosuke: Kuwabara Atsushi
Kitamura Kazuki: Tonamine Tsukasa
Ichimura Masachika: Shishido Tekkan
Hoshan: Oda Toshio
Mukai Osamu: Senoo Masashi
Fukiishi Kazue: Takahashi Eri

7 thoughts on “Bambino

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s