Daiteiden No Yoru Ni (Until The Lights Come Back)


Hadiah terbesar di malam natal

Film-film dengan tema natal yang melatarbelakanginya selalu memberikan kesan spesial baik di perjalanan cerita dan ataupun di akhirnya. Seperti film “Christmas on 24th July Avenue” yang dapat memberikan rasa nyaman pada penontonnya dengan suguhan cerita romantis, klasik, imajinatif dan dengan iringan soundtracknya yang menawan, “Daiteden No Yoru Ni” juga memiliki sisi yang serupa. Suasana malam natal yang begitu kental di gambarkan dengan musim dingin menyelimuti kota Tokyo, penduduk kota yang sibuk dengan rencana masing-masing di malam itu, serta kilauan salju yang melengkapi indahnya suasana yang ingin di gambarkan. Meskipun, sesuai judulnya, pada film ini terjadi mati lampu di seluruh kota yang menjadikan suasana gelap gulita, paduan lilin-lilin yang cantik sebagai dekorasi sama sekali tidak memburamkan suasana natal yang ingin digambarkan.

Bedanya pada film ini, jika dibandingkan dengan film-film bertema natal lain (seperti “Christmas on 24th July Avenue”) yang hanya mengangkat cerita tokoh utamanya, pada “Daiteiden No Yoru Ni” anda tidak akan menemukan lead actor atau lead actress yang berperan. Film ini mengetengahkan potongan-potongan cerita 12 orang karakter yang pada mulanya satu sama lain tidak ada kaitan sama sekali. Kedua belas orang ini, dengan kehidupan masing-masing, masalah masing-masing, sama-sama terjebak dalam gelapnya kota Tokyo saat listrik yang mati total karena sebuah meteor menghantam pusat pembangkitnya.

Pertama-tama muncul Shota, bocah 14 tahun yang sedang mengamati bintang di atas sebuah gedung tinggi, dan mendapati seorang gadis cantik di yang seperti ingin melompati atap gedung tersebut. Kemudian muncul karakter-karakter lain secara bergantian. Saeki, seorang pengusaha yang tidak akur dengan istrinya dan memiliki wanita simpanan di luar. Pada malam itu Saeki telah merencanakan makan malam bersama dengan sang istri ketika tiba-tiba sang selingkuhan mengajak bertemu di hotel tempat mereka biasa check in. Ada pula Ginggi, mantan napi yang terjebak bersama wanita hamil yang dicintainya di dalam kereta bawah tanah. Dong Li, seorang bellboy hotel berkebangsaan Cina yang terperangkap di dalam lift bersama seorang wanita muda yang menangis terisak-isak sedari pertama masuk ke dalam lift. Kemudian ada juga Shinichi, seorang pemilik bar dan Nozomi si penjual lilin yang tokonya berseberangan dengan bar tersebut, yang ternyata selama ini naksir Shinichi. Ada juga sepasang kakek nenek yang sedang menunggu kedatangan anak-anak serta cucu mereka datang berkunjung di malam natal namun digagalkan oleh pemadaman listrik itu. Masalah masing-masing karakter di atas terungkap seiring perjalanan cerita dan ternyata ada beberapa di antara mereka yang memiliki keterkaitan secara tidak langsung.

Saeki misalnya, pada saat yang sama dia sedang mengalami kebingungan akan keretakan rumah tangganya, Saeki mengetahui siapa ibu kandungnya sebenarnya yang ternyata adalah si nenek yang sedang menunggu anak-anaknya datang di atas. Istri Saeki sendiri ternyata juga berselingkuh dengan salah satu dari dua belas tokoh di atas. Meskipun uraian masalah masing-masing karakter ini cukup sederhana dan gampang ditebak, namun ternyata ada kejutan kecil yang menyenangkan di akhir cerita. Adanya kesempatan kedua untuk masing-masing tokoh yang menjadi hadiah terbesar di malam natal mereka menjadi inti pembicaraan dalam film ini.

Meskipun agak membosankan pada mulanya namun tidak sejelek kesan pertama yang sempat terbersit di benak saya. Ada beberapa kekurangan tentunya pada film ini. Terutama pada animasi tiruan salju yang mulai muncul pada pertengahan cerita, sangat kelihatan palsunya. Sisi lain, kesan indah dan romantis yang mencuat dengan dekorasi sejuta lilin di bar milik Shinichi sangat menyenangkan untuk dipandang. Dari sisi acting kedua belas karakter ini tidak banyak yang bisa saya komentari secara penampilan mereka (kecuali Abe Tsuyoshi dan Yuu Kashii) baru pertama ini saya lihat. So, untuk point-point di atas, meskipun ceritanya sederhana sekali, film ini berhak dapat 2.5 bintang.

Sutradara: Takashi Minamoto
Pemain: Kanata Hongo (Shota), Yu Kashii (Maiko), Taguchi Tomorowo (Saeki), Igawa Haruka (Misuzo), Etsushi Toyokawa (Shinichi), Tabata Tomoko (Nozomi), Kikkawa Koji (Gingi), Abe Tsuyoshi (Bellboy), Harada Tomoyo (istri Saeki)
Release: 12 Maret 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s