Ghost House


“Ini adalah rumahku!”

Perebutan rumah dan harta warisan dalam sebuah keluarga sangat sering kita saksikan di berbagai acara infotainment maupun berita sore. Namun bagaimana dengan perebutan sebuah rumah antara manusia dan hantu? Dua makhluk yang berbeda dunia ini bertemu dan berperang dengan caranya masing-masing.

Park Pil Gi, seorang pekerja di salah satu perusahaan kontraktor, sudah lama menabung dari hasil kerja kerasnya untuk membeli sebuah rumah yang sangat diidam-idamkannya. Dengan alsasan yang sangat sederhana namun mulia, Pil Gi ingin mewujudkan mimpi ayahnya yang telah meninggal dunia, yang ingin memiliki rumah atas namanya sendiri.

Alangkah senang hati Pil Gi ketika rumah megah dengan pemandangan laut yang memikat itu berhasil dibelinya dengan harga yang sangat murah. Dengan perasaan haru dan bahagia Pil Gi pun pindah ke rumah barunya. Namun betapa malang nasib Pil Gi ketika kehidupan damai sentausa yang direncanakannya di rumah baru tersebut hancur berantakan oleh teror demi teror yang dilakukan oleh hantu penghuni rumah itu. Pil Gi tak pernah tenang. Berkali-kali dikejar oleh pisau melayang, ditimpa sofa yang jatuh sendiri, dihantaui sejadi-jadinya sampai lari terbirit-birit ke kantor polisi namun apadaya tak satupun orang yang mempercayai ceritanya.

Kemalangan Pil Gi mencapai puncak ketika akhirnya Pil Gi yang teramat sangat ketakutan lari ke atas atap rumahnya dan disambar petir berulang-ulang. Meski sempat tak sadarkan diri, setelah kejadian itu Pil Gi justru mendapatkan kemampuan ‘ajaib’ nya yang dapat melihat dan juga mendengar makluk-makluk ghaib. Pil Gi pun bertemu langsung dengan musuh bebuyutannya selama ini. Perang masih berlangsung. Masing-masing, baik Pil Gi dan Yon Hwa sang hantu cantik tetap bersikeras bahwa rumah itu adalah milik mereka. Yon Hwa yang meninggal dalam sebuah kecelakaan bis masih terus berusaha mengusir Pil Gi dari rumah tersebut dengan berbagai trik-triknya. Yon Hwa sendiri tidak bisa keluar dari rumah tersebut karena masih menunggu sang suami yang telah terpisah darinya selama dua tahun.

Pil Gi dan Yon Hwa hidup bersama meskipun sering tidak akur dan saling usik. Sampai suatu hari ada seorang makelar real estate yang ingin merubuhkan rumah itu demi membangun sebuah motel. Pil Gi dan Yon Hwa saling bahu membahu untuk tetap mempertahankan rumah mereka. Pil Gi dengan kekuatan ‘ajaib’ nya juga bermaksud membantu Yon Hwa untuk menemukan suaminya. Apakah Pil Gi akan berhasil menyelesaikan masalah-masalahnya dengan Yon Hwa? Siapakah yang akhirnya menjadi pemilik sah rumah tersebut? Akankah Pil Gi berhasil menemukan suami Yon Hwa dan bagaimana nasib hantu cantik ini? Temukan sendiri jawabannya di film ini.

Secara Ghost house memang bergenre komedi-horor, paduan antara unsur-unsur komedi dan horor nya memang sangat kentara di berbagai penggalan adegan. Bahkan, kesan horor yang sangat kental melalui efek-efek visual tiga dimensi canggih sempat membuat saya bergidik ketika menyaksikan film ini. Pada mulanya, sosok hantu misterius yang muncul memang hanya berupa penampakan-penampakan sekilas dan terkadang hanya sekelebat bayangan hitam yang semakin membuat seram. Sound affect yang mendukung turut menyumbang kesan horor film ini. Namun entah kenapa, kengerian yang sempat dipercikkan di awal cerita berubah menjadi datar dan hampa ketika sang sutradara mulai memadu padannya dengan unsur-unsur komedi di film ini. Memang kocak dan memancing tawa sebenarnya. Tapi menurut saya, jembatan penghubungnya yang kurang nyambung, sehingga mood horor saya pun lenyap. Terlebih setelah itu adegan demi adegan yang berlangsung memang banyak menampilkan adegan komedi dan lucu-lucuan nya saja. Sang hantu yang menyeramkan pada mulanya ternyata hantu cantik yang mungkin dapat menggemaskan para penonton pria ketika melihatnya🙂

Meskipun gampang dimengerti, enjoyable, dan punya basic cerita yang menarik, film ini seperti tidak punya klimaks cerita. Menggantung di antiklimaks, meskipun (sepertinya) adegan perebutan rumah adalah klimaks yang dimaksudkan sang sutradara. Tapi karena kurang greget dan kurang ramai, maka tidak maknyus lah rasanya. After all, untuk yang membutuhkan hiburan lucu-lucuan pun menyukai genre horor-horor nanggung bisa menjadikan film ini sebagai alternatif hiburan. Not bad but not too good, tough.

Sutradara: Kim Sang Jin
Pemain: Cha Seung Won (Park Pil Gi), Jang Seo Hee (Yoon Hwa)
Release: 17 September 2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s