Marrying The Mafia 2


Kisah cinta dua insan yang berbeda latar belakang sampai sekarang masih sering dijadikan tema sentral film maupun drama televisi sinema Korea. Seperti kisah cinta antara seorang pria kaya dengan pembantunya (the story of bright and successful girl) atau seorang artis dengan fansnya (full house) atau malah seorang guru dengan muridnya (my tutor friend) yang masing-masing punya kekuatan cerita sendiri. Namun apa yang terjadi jika panah cinta cupid itu justru dibidik ke hati dua anak manusia yang 180 derajat saling berseberangan satu sama lain? Seperti kisah cinta Jang In Jae dan Kim Jin Kyung berikut ini.

Jang In Jae merupakan anak tertua dari Klan Harimau Putih yang sudah berusia 30 tahunan. Nyonya Hong Deok Ja, sang ibu yang juga menjabat sebagai ‘The Godmother’ Klan tersebut tentulah tak ingin melihat putranya yang tampan menjadi bujang lapuk seumur hidup. Beberapa kencan buta dengan wanita-wanita cantik telah diaturnya untuk sang putra, namun tak satupun yang berhasil membuat In Jae terpesona. Nyonya Hong pun memberi ultimatum pada In Jae untuk menemukan seorang wanita, siapapun dia, yang dapat membuatnya tertarik sebelum ulangtahun Nyonya Hong yang ke 60. In Jae sendiri sangat sulit jatuh cinta karena dirinya masih belum bisa melupakan Jin Sook, mantan pacarnya sejak SMA. Belum pernah ada wanita yang ditemuinya secantik dan sebaik Jin Sook. Sampai suatu hari, di sebuah restauran In Jae melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan mantannya tadi.

In Jae dan wanita itu seperti memang berjodoh. Ketika hendak mengambil mobilnya di tempat parkir, In Jae menyaksikan wanita itu dengan sempoyongan dan sangat tak berdaya mencoba melawan beberapa orang pria berjas hitam yang mengeroyoknya. In Jae yang berhati gentle pun langsung turun tangan dan membelanya. Dan setelah berhasil mengusir mereka, seperti mendapat restu dari langit pula, wanita itu tiba-tiba pingsan di pelukannya. In Jae yang tak sampai hati membiarkan wanita cantik itu akhirnya mengambil inisiatif untuk membawanya pulang.

Alih-alih mendapatkan ucapan terimakasih, begitu tersadar keesokan harinya, si wanita yang kadung berprasangka buruk langsung menuduh In Jae telah memperkosanya. Apalagi saat itu pakaian si wanita sudah terbuka semua dan In Jae juga cuma mengenakan piyama longgar. Wanita itu langsung menerjang In Jae sehingga menyebabkan bagian vitalnya nyaris patah. In Jae sampai harus mengenakan ‘pelindung’ sejak saat itu.

Kim Jin Kyung, nama wanita itu, ternyata adalah seorang jaksa penuntut di bidang kriminalitas. Pada hari yang sama dirinya bertemu dengan In Jae, Jin Kyung sedang dalam penyelidikan sebuah kasus penyelundupan dan ternyata dirinya telah diberi obat tidur oleh musuh. Hal itulah yang menyebabkan Jin Kyung sangat tak berdaya melawan musuh. Jin Kyung setelah menyelidiki detail peristiwa hari itu akhirnya mengetahui kalau In Jae lah yang telah menolongnya.

Karena merasa bersalah, Jin Kyung mendatangi apartement In Jae untuk meminta maaf dan sekalian mengembalikan pakaian In Jae yang sempat dikenakannya. In Jae yang sedari mula memang sudah merasa tertarik pada Jin Kyung, semakin terpesona dengan keelokan budi wanita itu. Bunga asmarapun mulai tumbuh di hatinya, demikian pula Jin Kyung yang mulai menaruh simpati pada pahlawannya. Sejak itu mereka In Jae dan Jin Kyung menjadi semakin dekat dan sering bertemu di sela-sela waktu senggang mereka.

Pada mulanya In Jae tidak mengetahui profesi Jin Kyung sebagaimana Jin Kyung juga tidak mengetahui aktivitas ilegal In Jae dan Klan Harimau Putih. Kepada Jin Kyung In Jae mengaku kalau dirinya bekerja di salah satu biro sosial sementara Jin Kyung juga hanya mengatakan kalau dirinya bekerja sebagai seorang pegawai pemerintah.

Hubungan asmara In Jae dan Jin Kyung tidak berjalan mulus. Kedua adik In Jae yang akhirnya mengetahui identitas wanita yang telah menaklukkan hati abangnya jelas-jelas menentang mereka. Begitu juga Nyonya Hong yang dapat membaca masalah besar yang akan terjadi jika hubungan itu diteruskan. Sementara dari pihak Jin Kyung juga ada saja yang mencoba mencari-cari alasan bahkan memfitnah In Jae agar dapat berpisah dengan Jin Kyung. Bagaimanakah akhir kisah cinta In Jae dan Jin Kyung ini? Akankah kisah cinta seorang gangster dan jaksa penuntut hukum dapat berakhir bahagia? Jawabannya dapat anda temukan di akhir cerita.

Secara film ini memang mengacu pada pendahulunya, “Marrying The Mafia” yang sukses menggebrak box office sinema Korea pada masanya, “Marrying The Mafia 2” (Enemy in Law) ini juga berusaha konsisten pada ide percintaan gangster dengan genre komedi romantisnya. Kisah cinta antara kepala mafia Klan Harimau Putih dengan seorang jaksa penuntut bidang kriminalitas menjadi inti permasalahan yang ingin diangkat. Bagaimana cara kedua manusia yang berseberangan ini agar dapat melangkah dalam ritme senada cukup menarik untuk diikuti. Terlebih konflik-konflik bathin yang dimunculkan pada karakter utama, antara cinta, hasrat, tanggung jawab dan keutuhan keluarga yang muncul di sini sepertinya cukup dekat dengan pengalaman hidup kita sehari-hari.

“Marrying The Mafia 2” ini sedikit berbeda dari pendahulunya, tidak hanya dari keseluruhan isi cerita, namun bumbu komedi yang dibubuhkan pada beberapa adeganpun lebih ‘terbuka’ dan sedikit vulgar yang memang tidak saya temui pada “Marrying The Mafia” pertama. Seolah-olah memang sengaja diselipkan untuk memancing perhatian lebih dari penonton, adegan-adegan tersebut memang cukup efektif mengundang kelucuan dan tawa. Misalnya ketika implant breast Jin Kyung terlepas ketika dia sedang berkelahi, atau ketika In Jae harus mengenakan ‘pelindung’ untuk kemaluannya yang hampir patah, mengundang kekonyolan tersendiri. Tapi tetap, sisi ‘Korea banget’ nya film ini yang masih menjaga batas budaya dan kesopanan tidak terlampaui.

Plot dan ritme film ini agak slow tapi tidak pula membosankan. Emosi penonton dapat terpelihara sejak awal sampai akhir cerita. Tidak ada adegan kekerasan yang terlalu sadis seperti pada versi pendahulunya. Tidak ada pula side story yang diulas terlalu detail seperti pada versi pendah lunya atau film-film lain pada kebanyakan.

Untuk penokohan, saya sangat puas pada acting Shin Hyun Jun. Hyun Jun berhasil menampilkan beberapa sisi karakter Jang In Jae yang sedang mengalami dilema. Sebagai anak yang ingin berbakti pada orang tua, Hyun Jun berhasil membawakan tokoh In Jae yang patuh dan menuruti kehendak ibunya. Sebagai seorang pria yang haus belaian wanita Hyun Jun berhasil membawakan In Jae yang penuh hasrat dan gejolak cinta membara setiap kali bertemu dengan Jin Kyung. Sebagai seorang pemimpin pun Hyun Jun dengan cerdas memperlihatkan moral dan tanggung jawab In Jae yang besar terhadap kelangsungan nasib Klan Harimau Putih. Karena itu, meskipun tetap ada celah-celah kecil yang menjadi kekurangan film ini, untuk keseluruhan kemasannya “Marrying The Mafia 2” saya rasa cukup menghibur dan memuaskan.

Sutradara: Jeong Young Ki
Pemain: Shin Hyeon Jun (Jang In Jae), Kim Won Hee (Kim Jin Kyung), Kim Soo Mii (Hong Deok Ja), Kong Hyeong Jin (Bong Myung Pil), Lim Hyeong Jun (Jang Kyung Jae), Tak Jae Hoon (Jang Seok Jae)

Release: 7 September 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s