Yellow Tears (Kiiroi Namida)


Ingin lihat kemampuan acting anak-anak Johnny’s Entertainment yang tergabung dalam boy band Arashi? Film ini salah satunya.

Merupakan produksi terbaru J storm yang sengaja diperuntukkan bagi perluasan ‘wilayah’ Arashi di dunia hiburan, Yellow Tears menampilkan kelima anggota Arashi dari yang paling jarang muncul di film atau dorama (Satoshi Ono) sampai yang paling tinggi jafwal terbangnya seperti Matsumoto Jun. Film ini sendiri diadaptasi dari manga karangan Shinji Nagashima yang berjudul “The Young Ones”.

Bercerita tentang empat orang sahabat yang memiliki ketertarikan di bidang senin. Eisuke si pembuat manga, Shoichi si penyanyi solo, Ryuzo si novelis, dan Kei si pelukis cat minyak yang sama-sama bercita-cita ingin hidup bebas dan berkarir di bidang seni. Keempat sahabat ini awalnya berjanji untuk berpisah dan akan bertemu lagi setelah mereka mencapai mimpi mereka. Tapi ternyata belum sebulan berpisah, satu demi satu mereka kembali berkumpul dan menumpang hidup di apartemen Eisuke yang kecil dan sumpek. Dengan idealisme mereka dan keahlian yang pas-pasan, keempat sahabat ini mencoba menempuh dunia mereka masing-masing. Baik Eisuke, Shoichi, Ryuzo maupun Kei juga terlibat dalam kisah cinta yang unik. Eisuke menjalin asmara dengan istri seorang penerbit, Shoichi menaruh hatinya pada seorang pegawai bar sementara Kei jatuh cinta pada seorang wanita misterius yang ditemuinya di pinggir sungai. Keempat sahabat ini, seiring berjalannya waktu dan proses pembelajaran mereka akan kehidupan, menyadari kalau impian, cita-cita dan ambisi tidak selalu akan sejalan dengan takdir mereka masing-masing dalam hidup ini.

Biasa banget, tak ada hal spesial yang saya temukan dalam film ini baik ide ceritanya, penokohan masing-masing karakternya, maupun isi yang ingin disampaikan dari film ini sendiri. Meski sebagian penulis review lain menyatakan film ini mengandung unsur artistik yang kental, menurut saya selain daripada cara sang sutradara menggambarkan setting tahun 1962 yang diambil dengan minimalis warna serta gambaran kehidupan masyarakat saat itu, tak ada hal yang benar-benar dapat membuat saya merasakan sisi ‘WOW’ nya. Membosankan dan cukup melatih kesabaran rasanya menyaksikan adegan demi adegan anak-anak Arashi di sini. Bukan hanya acting mereka yang pas-pasan (kecuali Matsumoto Jun yang muncul sebagai cameo), cara mereka berinteraksi di film ini pun tidak cukup mencuatkan chemistry persahabatan yang kuat. Seolah-olah hanya menyaksikan latihan ‘acting’ belaka, saya melihat keempat anggota Arashi memang harus berlatih dan mengeksplorasi lebih jauh lagi kemampuan mereka dalam dunia hiburan yang satu ini. Untuk Sho Sakurai, ini kali kedua saya menyaksikan actingnya setelah “Honey and Clover” tapi toh ternyata memang tak ada beda yang signifikan. Masih datar dan minim ekspresi saja. Begitu pula dengan Kazunari Ninomiya yang paling banyak mendapatkan bagian peran di sini. Nino juga bukan kali ini ikut main dalam sebuah produksi film ataupun dorama. Tapi ternyata kemampuan actingnya pun tak memperlihatkan perkembangan yang bermakna.

Sekarang bagaimana dengan mantan kekasih saya Matsumoto Jun? Tak salah memang, lagi-lagi, meski hanya muncul sebagai cameo (Matsujun di sini memerankan tokoh Yuji si pengantar makanan keliling), Matsujun tampil prima dan begitu cemerlang dibanding keempat temannya yang lain. Terkadang malah menunggu kehadiran Matsujun demi melihat sepotong actingnya bikin saya gregetan di film ini. Stil the best lah Jun-kun!

So, tanpa banyak basa basi, film ini cuma bisa saya bubuhkan 2 bintang.

Sutradara: Isshin Inudou
Mangaka: Shinji Nagashima
Pemain: Kazunari Ninomiya (Eisuke Muraoka), Sho Sakurai (Ryuzo Mukai), Masaki Aiba (Shoichi Inoue), Satoshi Ono (Kei Shimokawa), Matsumoto Jun (Yuji Katsumada), Yu Kashii (Tokie), Hirotaro Honda (Teikichi), Hanae Kan (Yasuko Muraoka), Chieko Matsubara (Kinu Muraoka)
Release: 14 Juni 2007

11 thoughts on “Yellow Tears (Kiiroi Namida)

  1. Hei…hei… Matsu-kun is mine, heheheheh
    Tapi emang Matsu sih dah ga diragukan lagi aktingnya. Cuma nyanyinya aja yang rada ancur :p Peace ah!

  2. Meskipun ngefans dengan Arashi, sehabis nonton itu, saya menjerit dalam hati “Masjun hanya maen 5 menit!! Kembalikan 2 jamku yg berharga!!” T___T Bukan hanya karena Matsujun jadi cameo, alur filmnya berjalan begitu lambat sampe saya tertidur *sweatdrops*

  3. setuju!!

    JUN IS STILL THE BEST!!1 KAKKOIII!! KAWAII!!

    Nino sama sho emang gak gitu jago akting sih….

    Ohno kan jarang banget ikut dorama…

    Ada aiba gak disana??gue baru nonton sampe bagian jun muncul…..

    AHHH JUN MUNCUL HANYA DUA MENIT!!

    KEMBALIKAN 1 SETENGAH JAMKU YANG BERHARGA!!! T________T

  4. HE9x..
    jLAz la jun yg pling hbat…
    yayank g gthu…^^
    tpi d sni jun jrang mncul… ntoe bte na…
    tpi dmi tmpang na yg gnteng g rela bli ne film..
    oowh.. jun.. my luphly yg super kwai…^^

  5. cuman mau say hi dan komen dikit, hi semua !!!, gw kira diindonesia ini cuman gw yg kegilaan ama matsujun ternyata…. ada beberapa selain gw !!! nonton film ini emang bakal boring bgt klo ga suka ama siapa pemerannya, jun-nya jg culun abisss…. tp lumayan bisa tau jepang jaman dulu ya. Eh Komen kalian lucu2 dehhh ha ha ha…..ya sud, thanks

  6. JUN…STILL KAKKOI….Film ini bagi gw rada JIBANG (alias JIJIK banget) cause,ada bagian dimana bokongnya si sho terlihat T_T pokoknya film ini nge-bt-in…..gw dan temen gw aja mpe ngantuk nontonnya….udah gitu Junnya cuma dikit lagi BETEEEEEE…..udah capek nonton lama2….eh…MATSUJUN-nya cuma dikit tampilnya…rugi deh….untungnya gw ga sempet beli…..^^…sekian opininya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s