Namnyeo Sangyeoljisa


“Antara cinta, nafsu, dan penghianatan”

Film lawa ini diadaptasi dari sebuah novel asing karangan Choderlos de Laclos
yang berjudul ‘Les Liaisons Dangereuses’. Mengambil setting di akhir era Chosun, film ini seperti sengaja mengungkapkan skandal tersembunyi (sesuai judulnya) yang terjadi di kalangan aristokrat serta pejabat-pejabat pada era tersebut. Ketimpangan derajat antara pria dan wanita dalam masyarakat, hak mereka dalam keluarga, serta aturan-aturan baku yang memaku peran mereka sebagai wanita, istri, dan manusia.

Berawal dari cinta yang tak kesampaian, Nyonya Cho, istri seorang pejabat pemerintah yang menaruh dendam pada suaminya karena cinta sejati yang dikorbankannya ketika harus menikah dengan sang pejabat sering dihampakan oleh kegemaran sang suami memungut gundik di sana sini. Sang pejabat Lord Yu lagi-lagi mengatasnamakan adat dan kehendak para leluhur atas perilakunya ini.

Nyonya Cho pun mengajak Cho Won, sepupunya, untuk bekerjasama dalam menyiapkan ‘kado kecil’ pernikahan Lord Yu dengan calon gundik terbarunya yang masih berusia 16 tahun. Nyonya Cho meminta sepupunya ini untuk memikat sang gadis dan menghamilinya sebelum Lord Yu menikahinya. Cho Won yang terkenal sebagai seorang womanizer ulung mulanya menolak karena sendirinya Cho Won sedang mengincar seekor ‘harimau’ yang diberinya gelar “janda perawan berusia 27 tahun”.

Nyonya Jung adalah wanita yang diincar Cho Won. Setelah bertahun-tahun ditinggal mati suaminya, nyonya Jung tetap setia mengabdi pada keluarga sang suami tanpa sekalipun pernah melirik pria lain. Kesucian dan kealiman nyonya Jung ini sangat tersohor ke seantero daerah. Beberapa priapun mencoba mendekatinya termasuk sang adik ipar sendiri, tetapi selalu ditampik nyonya Jung atas alasan kesetiaan, adat dan tatakrama.

Bagi Cho Won yang tak pernah gagal dalam memikat wanita, nyonya Jung adalah tantangan yang menarik. Semakin menarik ketika nyonya Cho mengajaknya bertaruh. Jika Cho Won berhasil menaklukkan sang harimau dan membuktikan telah merenggut keperawananya, sang nyonya bersedia memberikan hadiah apa saja termasuk tubuhnya. Namun sebaliknya jika gagal Cho Won harus bersedia meninggalkan segala kesenangan dunia untuk membaktikan dirinya sebagai seorang biksu. Tentu saja Cho Won menyanggupi syarat sepele ini karena dirinya sangat yakin akan menang.

Cho Won pun mulai memasang perangkap. Dari pertemuan tak disengaja, hadiah-hadiah kecil sampai trik -trik tercanggih (pada masa itu) untuk memikat hati wanita dikeluarkannya. Jurus-jurus jitu Cho Won ternyata sangat susah mengenai sang harimau, Cho Won pun sempat kewalahan namun hal ini justru semakin membuatnya bersemangat.

Sementara itu nyonya Cho disibukkan oleh So Oek si gadis belia yang akan dijadikan gundik oleh suaminya. Karena So Oek berasal dari keluarga biasa, nyonya Cho harus mengajarkan tatakrama dan kesopanan pada gadis ini. So Oek pun ditarik ke rumah besar Lord Yu. Dan ternyata lagi-lagi nyonya Cho yang diselimuti dendam menciptakan skandal baru melalui So Oek ini. Tak hanya berhasil menjadikan So Oek ‘barang second‘ melalui tangan Cho Won, nyonya Cho sendiri mendapatkan mainan baru yang tadinya justru adalah kekasih So Oek.

Antara cinta, nafsu dan penghianatan. Nyonya Cho memang berhasil menggolkan semua rencana busuknya. Namun konsekwensi terberatpun harus diterimanya. Demikian pula Cho Won yang alih-alih menikmati permainan yang telah dirancangnya justru terjebak dalam permainannya itu sendiri.

Unik, menarik, menghibur dan nyaman di mata. Unik dengan isi ceritanya yang mengungkap sisi ‘lain’ kehidupan para bangsawan era Chosun (dalam hal ini menyorot ke istri pejabatnya seperti nyonya Cho) yang tadinya saya pikir sangat setia, patuh dan taat pada suami mereka meskipun tidak menikah atas nama cinta. Sosok nyonya Cho yang digambarkan di sini sangat lihai dan cerdik, yang hanya dengan lidahnya dapat mewujudkan ambisi, dendam, bahkan memuaskan nafsunya. Sementara di sisi berseberangan, ada sosok wanita langka yang bersedia menyandang status janda seumur hidupnya bahkan menafikan diri dari nafsu dan cinta yang dirasakannya.

Film ini sejatinya memang murni bergenre drama. Bahkan tak ada satupun adegan komedi terselip di sekian ratus menit durasi pemutarannya. Herannya, saya justru bukan sekali dua kali tanpa sengaja mengulum senyum di beberapa adegan film ini. Entah karena skandal kucing-kucingan para karakternya maupun intrik mereka dalam menciptakan skandal tersebut yang terkesan smart tapi tetap licik memanipulasi keadaan. Selain itu, kepiawaian sutradara dalam mengemas frame-frame adegan dengan sangat terstruktur, rapi, tidak melompat-lompat dan pengaturan ritme cerita yang konstan menjadikan film ini nyaman di mata saya. Sayang, klimaks yang dicapai tidak begitu greget seperti yang saya bayangkan. Padahal munculan-munculan konflik yang ada semestinya dapat menciptakan makar yang lebih hebat lagi dari itu. Terlebih ketika skandal tersembunyi ini akhirnya terbuka dan menjadi konsumsi publik. Iringan soundtrack pada bagian klimaksnya juga tidak banyak membantu mempengaruhi saya karena terkesan biasa dan agak lambat. Padahal, lagi-lagi, sampai ke anti klimaksnya film ini telah berhasil mencuri perhatian penuh dari saya, apadaya rasa penasaran dan deg-degan itu hanya bisa digantung beberapa saat saja karena klimaktorius yang ‘biasa’ tadi.

Untuk acting dan penokohan karakter-karakter yang muncul di sini, meskipun film ini produksi tahun 2003, baik acting Bae Yong Jun maupun Jeon Do Yeon bisa dibilang tanpa cela. BYJ sendiri meski pada waktu itu baru naik daun lewat “Winter Sonata” (produksi 2002) tapi toh actingnya bikin saya amaze karena mampu menginterpretasi tokoh Cho Won si womanizer tersebut sehingga perasaan sebal, benci dan muak saya seketika mencuat demi BYJ yang berkulitkan si womanizer Cho Won. Bravo BYJ, gak salah kalau sampai sekarang doi masih masuk dalam top 5 most wanted actor di Korea.

Untuk Lee Mi Suk, aktris generasi lama yang memerankan tokoh Nyonya Cho, menurut saya kurang terbaca emosi, hasrat dan dendamnya yang menjadi pangkal bala skandal ini. Lee Mi Suk terkesan agak datar dan kurang ekspresif, baik dari mimik muka maupun caranya berbicara. Padahal tokoh nyonya Cho ini mestinya bisa menimbulkan rasa sebal, benci bahkan muak seperti yang saya rasakan pada Cho Won (mengingat skandal ini berawal dari dua orang tokoh tadi). Tapi toh emosi yang ikut tersalur ke penonton sebatas rasa kasihan ketika akhirnya nyonya Cho harus melarikan diri ketika skandalnya terungkap.

Sutradara: Lee Jae Yong
Pemain: Lee Mi Suk (nyonya Cho), Bae Yong Joon (Cho Won), Jeon Do Yeon (nyonya JUng), Jo Hyun Jae (Kwon In Ho), Lee So Yeon (So Oek)
Release: 2 Oktober 2003

One thought on “Namnyeo Sangyeoljisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s