The Houseguest of My Mother


Deok Gun, seorang detektif swasta yang terlilit hutang pada mafia setempat, secara kebetulan mendapatkan klien yang sedang mencari cucunya yang hilang. Deok Gun pun segera meluncur ke desa tempat terakhir kali anak perempuan itu pernah muncul. Untuk memudahkan misi pencariannya Deok Gun menyewa sebuah kamar pada seorang janda beranak satu. Hye Joo, janda muda yang sudah lama mendambakan kehadiran pria tampan dalam hidupnya pun seperti mendapatkan angin segar dan tanpa ragu menerima kehadiran Deok Gun di rumahnya. Service maksimalpun diberikannya yang tentu saja membuat putrinya sedikit jengah melihat kelakuan ‘centil’ ibunya ini. Meski demikian Oak Hee, sang putri, tak kuasa menghadang tumbuhnya benih cinta yang ada di antara Deok Gun dan ibunya. Namun ternyata di balik perhatian dan kemanisan sikap Deok Gun pada Hye Joo terdapat niat tersembunyi.. Apakah Deok Gun berhasil melaksanakan rencana busuknya?

Film ini sebenarnya versi remake dari film berjudul sama produksi tahun 1961. Diambil dari sebuah novel ternama karangan Shu Yo, film ini berhasil meraih penghargaan bergengsi di ajang Asia Pacific Film Festival tahun 1961. Namun sayang, sebagaimana dilema film-film remake lainnya, The Houseguest of My Mother atau yang dikenal juga dengan judul Swindler in My Mom’s House ini tidak berhasil meraih top-up tanggapan yang serupa.


Ibu dan anak yang jarang akur



Deok Gun dalam misinya..



Mencuri hati Hye Joo


Kekurangannya, menurut saya, mungkin dari cara penyajian jalan cerita dan penyusunan plotnya. Inti masalah yang ingin dibahas dalam film ini seperti terpecah belah. Mulanya saya melihat misi utama film ini adalah bagaimana sang nenek menemukan cucunya yang telah lama hilang lewat bantuan detektif swasta tadi (Deok Gun). Namun kemudian masalahnya bergeser menjadi masalah hutang Deok Gun pada sang mafia yang sempat membuat celaka teman dekatnya. Sementara ternyata hutang ini pun sebenarnya bukan hutang Deok Gun sendiri melainkan hutang judi sang ayah yang telah mendekam dalam penjara karenanya. Kemudian masalah lain pun seolah muncul ketika saya melihat ketidak akuran Hye Joo dan putrinya Oak Hee. Ketiga hal ini sama tidak kuatnya untuk mendirikan sebuah bangunan film yang kokoh dan kuat dari segi materi.

Sedang untuk penokohan masing-masing pemerannya menurut saya biasa-biasa saja. Saya tidak mencatat chemistry yang indah antara Deok Gun (Jeong Joon Ho) dan Hye Joo (Kim Won hee), ataupun antara Hye Joo dan putrinya Oak hee (Kim Eun Ah). Ketiga pemain ini seolah-olah hanya menuntaskan tugasnya dalam memerankan karakter yang dipilihkan untuknya. Tak terbaca kesatuan adegan yang selaras antara mereka sehingga menjadikan film ini semakin hambar dan minim emosi di mata saya. Well then, meskipun ada beberapa adegan komikal yang bisa memancing tawa pada film ini tapi toh tidak banyak menolong memberikan nilai lebih. Dua bintang saja dari saya.

Sutradara: Lim Yeong-seong
Pemain: Jeong Joon Ho (Deok Gun), Kim Won Hee (Hye Joo), Ko Eun Ah (Oak Hee)
Release: 22 Agustus 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s