Old Boy


Vegeance versus Vegeance

Kalau beberapa waktu yang lalu saya sempat dipesonakan oleh “Symphaty for Lady Vegeance” dan versi Mr. Vegeance nya yang tak kalah seru, kali ini saya kembali dikagetkan emotionally oleh suguhan sang maestro Park Chan Wook dalam karyanya yang berjudul “Old Boy”. Sebuah film lawas yang unik dan bercita rasa khas Chan Wook.

Old Boy diawali dengan perkenalan tokoh Oh Daesu, seorang karyawan yang ditahan polisi karena berbuat onar dan mabuk-mabukan di tempat umum. Setelah beberapa jam menginap di kantor polisi, Daesu berhasil dibebaskan dengan jaminan oleh temannya Joo Hwan. Namun alih-alih dapat pulang ke rumah untuk merayakan ulang tahun putrinya, Daesu tiba-tiba menghilang dan tidak diketahui jejaknya.

Daesu terbangun dan mendapati dirinya terkunci dalam sebuah kamar yang menyerupai kamar hotel. Sebuah tempat tidur, kamar mandi dan TV telah tersedia di dalamnya. Daesu yang bingung berteriak-teriak minta dikeluarkan. Daesu meronta dan menerjang pintu kamar itu namun tak seorangpun muncul untuk menolongnya. Pada jam-jam tertentu Daesu diberikan makan lewat sebuah lobang kecil di bawah pintu. Dan pada jam tertentu pula Daesu diasapi dengan valium melalui pipa pemanas yang akan menidurkannya untuk beberapa jam ke depan. Daesu menjalani kehidupan yang sama selama bertahun-tahun tanpa mengetahui siapa pelaku di balik penyekapannya itu dan kenapa dia diperlakukan sedemikian.


Lobang di bawah pintu, jendela dunia Daesu


Suatu hari, Daesu menyaksikan fotonya terpampang sebagai tersangka pembunuhan di salah satu siaran televisi yang sedang ditontonnya. Dan semakin kagetlah Daesu waktu mengetahui kalau yang telah dibunuh itu adalah istrinya sendiri. Daesu hampir gila. Daesu kembali mencoba melawan dan mencari jalan keluar dari kamar itu, namun sia-sia. Dinding kamar itu terbuat dari bata berlapis-lapis sementara pintunya sendiri terbuat dari kayu yang dilapisi baja di bagian luarnya. Sampai akhirnya, setelah 15 tahun masa penyekapan Daesu di kamar itu, Daesu tiba-tiba mendapati dirinya sudah berada di sebuah atap gedung. Daesu dilepas!

Dendam yang menjalar di seluruh aliran darah tubuhnya membuat Daesu bertekad untuk menemukan si biang kerok yang telah menghancurkan hidupnya. Daesu pun mulai mencari dan menyelidiki tokoh utama di balik penyekapan itu. Dalam penyelidikan inilah Daesu bertemu dengan Mido, seorang pramusaji di restauran Jepang yang akhirnya ikut membantu Daesu menyingkap segala misteri yang terselubung. Satu persatu bukti dan petunjuk ke si pelaku berhasil dikumpulkan Daesu. Meski demikian, tanpa disadarinya tiap langkah yang ditujunya demi menemukan si pelaku juga mengantarkannya pada kehancuran yang lebih berat.


Mencari kebenaran bersama Mido



Revenge is sweet..


Terus terang, film ini memang terasa lebih berat ketimbang dua film Chan Wook yang lain. Kalau Lady Vegeance menawarkan sisi artistik yang kental dan keindahan dari suatu skenario, Mr. Vegeance menawarkan plot yang cepat dengan keunikannya yang berani keluar dari comfort zone sebuah film, Old Boy lebih kompleks dengan muatan-muatan konflik yang sedikit berputar namun sama-sama menuju titik yang sama, vegeance itself, dendam itu sendiri.

Ada dendam di dalam dendam. Uniknya film ini, meski dikemas sedemikian ekstrim, seperti mencoba memberi penekanan pada penontonnya untuk tidak menyepelekan sedikit informasipun yang didapat. Sebagaimana pepatah orang tua kita dahulu, “Mulut kamu adalah harimau kamu” telah diajarkan kembali dalam film ini. Informasi sederhana yang keluar dari mulut Daesu di masa mudanya lah yang akhirnya menjadi harimau ganas yang di usia tuanya menghancurkan tiap keping bagian hidupnya. Daesu yang malang, Woo Jin “gila” yang juga malang.

Film ini mengandung unsur kekerasan dan seperti kekhasan film Chan Wook yang lain, adegan “make out” atau “makin love” bukan adegan tabu yang harus disamarkan sang sutradara. Chan Wook memang berbeda, berani dan cukup proaktif membuat gebrakan yang di luar jalur biasa. Meski demikian, tak bisa dipungkiri “Old Boy” memang karya Chan Wook yang paling kuat. Tak heran kalau film ini berhasil mengantongi penghargaan dari berbagai festival film internasional.

Yang menarik di sini, pemunculan Yu Ji Tae sebagai the psycho Woo Jin. Dari obrolan ringan saya dan teman saya yang juga sangat mengagumi karja Chan Wook yang satu ini, Ji Tae pada saat lulus casting film ini sempat mengundurkan diri ketika mengetahui lawan mainnya adalah bintang besar yang sudah makan asam garam seperti Choi Min Sik. Ji Tae yang pada saat itu masih tergolong anak baru di kancah sinema Korea sepertinya tidak punya rasa percaya diri yang cukup karena tokoh Woo Jin yang akan diperankannya juga merupakan tokoh yang tidak biasa. Tapi toh, Ji Tae main bagus, bagus banget malah menurut saya yang sebelumnya terbiasa melihat Ji Tae memerankan tokoh protagonis. Bahkan di Hwang Jin Yi (tandem bareng Ji Tae dengan Song Hae Kyo), pria ganteng ini meski tetap berhasil membubuhkan kesan tapi tidak sebagus acting nya yang saya lihat di Old Boy. Therefore, jadi penasaran untuk menjajal film Ji Tae yang lain nih😀

Choi Min Sik, ajushi yang satu ini TOP banget deh! Sangat total dan rasanya saya tak berhasil menemukan kecacatan sedikitpun untuk urusan acting doi. Bahkan, ketika Min Sik mesti bertingkah seperti seekor anjing bagi Woo Jin (Yu Ji Tae), tokoh Daesu yang sangat desperate dan hampir gila benar-benar terbaur di dalam Min Sik, saya sampai bergidik. Karena itu tanpa ragu lagi memang, atas semua kegilaan yang ada di film ini, yet atas kebrilianan skenario dan kekuatan ceritanya, saya bubuhkan 5 bintang untuk “Old Boy”. Mutlak.

Sutradara: Park Chan Wook
Pemain: Choi Min Sik (Oh Daesu), Yu Ji Tae (Lee Woo Jin), Kang Hye Jong (Mido), Ji Dae Han (No Joo Hwan)
Release: 21 November 2003

Award:
1. 57th Cannes Grand Prix of the Jury (Park Chan Wook)
2. Grand Bell Awards 2004: best director, best actor, best editing, best illumination, best music
3. Asia Pacific Film Festival 2004: best director, best actor
4. 37th Festival Internacional de Cinema de Catalunya: best film, best critic’s film
5. Bergen International Film Festival 2004: audience award
6. British Independent Film Awards 2004: best foreign independent film
(credit: wikipedia)

5 thoughts on “Old Boy

  1. hebattt juga nich jeung ichal ‘ berani’ nonton film genre ini… aku ajah yg baru nonton Lady Vegeance masih kebayang -bayang kesadisan yang ada di film ini. apalagi korbannya anak kecil jadi makin miris nontonya.

    tapi teuteup kalo dach dikasih rating 5 sama jeung ichal harus memberanikan diri untuk nonton ..

  2. film ini master piece sutradara besar neng, dibanding lady vegeance mungkin hanya separonya (bukan soal adegan violance nya ya), rugi banget klu ga nonton😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s